Jumat, 12 Oktober 2012

Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Buku ini ditulis oleh Tjahja Gunawan Diredja yang juga merupakan wartawan Harian Kompas. Buku ini diberi kata pengantar oleh Jakob Oetama, Pendiri dan Pemimpin Umum Harian Kompas. Buku ini mengisahkan penggalan perjalanan pahit getir dan jatuh bangunnya Chairul Tanjung alias CT sebagai pengusaha yang merintis usaha dari nol tanpa fasilitas dari pemerintah. Buku yang terdiri 384 halaman ini juga dilengkapi sejumlah foto yang mengisahkan berbagai aktivitas bisnis maupun kegiatan sosial CT. Termasuk beberapa foto saat CT masih remaja. Pada buku ini antara lain memaparkan bahwa dalam usia 50 tahun, CT telah berhasil menjadi tokoh sukses di berbagai bidang. Terutama pada bidang bisnis properti, perbankan, asuransi, perhotelan, pasar modal, dan media massa. Total asetnya pun kini bernilai triliunan rupiah. Majalah Forbes, sebuah majalah bisnis dan finansial Amerika Serikat yang didirikan pada 1917 oleh BC Forbes, pada Maret 2012 mengeluarkan daftar 1.226 orang terkaya di dunia. Sebanyak 17 di antaranya adalah orang Indonesia. Nah, nama CT termasuk di antara 17 nama itu. Tepatnya pada urutan 634 orang terkaya di dunia. Kekayaan pribadi CT disebut mencapai dua miliar dolar AS atau setara Rp 18 triliun (kurs: 1 dolar AS = Rp 9.000). Padahal, CT bukan berasal dari keluarga anak konglomerat. Juga bukan anak jenderal. Bos CT Corp (Chairul Tanjung Corpora) yang menaungi puluhan perusahaan ini mengaku sebagai anak dari keluarga sederhana. Ayahnya, AG Tanjung, adalah wartawan sekaligus pengelola surat kabar beroplah kecil sejak Orde Lama. Namun saat Orde Baru berkuasa, surat kabar yang dikelola ayahnya itu kemudian dipaksa tutup karena berseberangan secara politik dengan penguasa saat itu. Kondisi ini membuat orangtuanya menjual rumah dan berpindah tinggal. Masa kecil CT dilewati di Gang Abu, Batutulis, Kelurahan Kebon Kelapa, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat. Katanya, pada tahun 1970-an, merupakan satu di antara kawasan terkumuh di Jakarta. Jalanan tanah, becek, dan banjir kala hujan. Semua rumah di kawasan ini merupakan rumah petak kecil, beratap pendek, dinding tambal sulam, dan tak ada bangunan bertingkat. Kondisi keuangan orangtua CT pun saat itu terbatas. Ibu CT, Halimah, sampai harus menggadaikan kain halus miliknya untuk membiayai kuliah pertama CT di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Indonesia (UI). Namun sadar dengan keterbatasan keuangan orangtuanya, Chairul tumbuh menjadi anak yang kreatif, pekerja keras, dan mandiri sejak muda. Kini ia pun menuai hasilnya.
Masa Mahasiswa Chairul Tandjung Di buku ini juga mengisahkan bahwa sejak kuliah di FKG UI, CT pun harus mencari sendiri uang agar bisa membiayai kebutuhan kuliahnya. Di awali dengan membuka usaha fotokopi di kampusnya. Lalu masuk ke bisnis alat-alat kedokteran gigi untuk memenuhi kebutuhan rekan-rekannya. Sembari menjalankan bisnis di kampus, CT juga aktif dalam urusan gerakan kemahasiswan. Buktinya ia sempat dipercaya sebagai Ketua Ex-Officio Dewan Mahasiswa UI. Lalu pada 1984, ia terpilih menjadi Koordinator Mahasiswa se-Jakarta. Pada tahun yang sama, ia juga terpilih sebagai mahasiswa teladan tingkat nasional. Saat mahasiswa, ia dan rekannya terlibat dalam gerakan menolak militerisme masuk UI dengan menggelar mogok kuliah. Tak hanya menggembok, tapi juga mengelas pintu masuk fakultas. Pasalnya, saat itu terdengar isu bahwa Mayjen TNI Nugroho Notosusanto akan diangkat Rektor UI menggantikan Prof Dr Mahar Mardjono. Selepas kuliah, CT pernah mendirikan PT Pariarti Shindutama yang memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Kepiawaiannya membangun jaringan dan sebagai pengusaha membuat bisnisnya pun semakin berkembang. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Karman yang kini bernama Bank Mega. Di bidang bisnis bidang penyiaran dan multimedia, ia juga sukses membesarkan Trans TV. Lalu membeli TV7 dan mengubah namanya menjadi Trans7. Lalu membuat Trans Studio. Satu di antaranya adalah Trans Studio Mall yang ada di Makassar. Pada 1 Desember 2011, Chairul meresmikan perubahan nama Para Grup menjadi CT Corp. CT adalah singkatan dari namanya. Mungkin dinilai sukses di bidang bisnis dan telah menjadi konglomerat serta pemilik media massa, CT sempat ditawari beberapa petinggi untuk bergabung di partainya. Namun ayah dua anak dan suami dari Anita Ratnasari ini menolak bergabung di partai politik. Ia memilih kukuh dan fokus sebagai pengusaha. Saking larisnya, buku ini telah dicetak ulang hingga cetakan keempat. Buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Buku Kompas, Juni 2012. Di TB Gramedia, harga buku ini dijual Rp 58 ribu per eksempelar. Tak sampai sebulan sudah naik cetak hingga 4 kali merupakan rekor fenomenal. Inilah mungkin efek dari kerapnya buku ini diiklankan melalui media massa milik CT sendiri yakni Trans TV, Trans 7, dan Detik.com. Ya, inilah kekuatan lain beriklan di media massa.



Jumat, 28 September 2012

Selamatkan Indonesia

KabarIndonesia - Kecenderungan manusia untuk mengulang sejarah yang buruk adalah penyakit yang susah ditemukan obatnya. Seperti ditulis George Bernard Shaw (1856-1950), “Sekalipun sejarah selalu berulang, manusia (Indonesia) sangat sulit untuk tidak mengulangi sejarah yang buruk.” Akibatnya, meminjam Goerge Santayana (1863-1952), manusia akan terus mengulangi pengalaman sejarah yang buruk itu. Kata-kata bijak dua filsuf tersebut dapat kita jadikan batu pijakan untuk mengaudit Indonesia dewasa ini. Betapa tidak, Indonesia kini menjadi negara yang tidak mampu menahan derasnya arus-arus kapitalisme dan neoimperialisme yang dikemas melalui isu-isu globalisasi. Kompeni-kompeni baru reinkarnasi VOC telah muncul dengan bentuk yang lebih modern. Korporasi internasional ditopang oleh tiga lembaga raksasa, yakni IMF, World Bank, dan WTO. Ketiga lembaga tersebut merupakan penopang mimpi Amerika untuk mewujudkan misi Pax Americana. Mimpi Pax Americana tak jauh berbeda dari misi kolonialisme (kapitalisme), yaitu akumulasi modal sebesar-besarnya dan penguasaan atas SDA/SDM di negara jajahan.

Melalui ketiga lembaga di atas, mereka membuat kontrak ekonomi (politik) yang membuat negara-negara dengan SDA yang melimpah, seperti Indonesia, tunduk di bawah kekuatan korporasi yang didukung kekuatan politik, ekonomi, dan militer Internasional. Fenomena mencemaskan ini dikritik oleh tokoh-tokoh penentang globalisasi seperti Stiglitz, seorang pemenang Nobel bidang ekonomi tahun 2001. Ia memandang bahwa globalisasi yang dijalankan tidak boleh menghempaskan keadilan sosial. Hal ini karena, mengguritanya korporasi global yang didukung oleh para eco-politik hit man lokal hanya menghasilkan kemiskinan dan pengangguran.

Jumlah penduduk miskin Indonesia saat ini mencapai 39,05 juta jiwa atau 17,75%. Sedangkan pengangguran masih membuncah sejumlah 12,6 juta jiwa. Dalam kunjungannya ke Indonesia tahun 2007 lalu, Stiglitz memberikan ”warning” agar pemerintah Indonesia segera melakukan renegosiasi atas perjanjian kontrak pertambangan yang telah ditandatangani. Sebab, kontrak karya yang ditandatangani, misalnya dengan Freeport, terbukti sangat merugikan negara baik di bidang ekonomi, sosial, adat dan lingkungan hidup. Untuk itu, renegosiasi kontrak karya sangat mendesak untuk dilakukan agar rakyat tidak semakin disengsarakan, dan pemerintah tidak tunduk pada korporatokrasi yang menjadikan para pemimpin Indonesia bermental inlander.

*****

Indonesia menjadi miskin dan sengsara karena, lagi-lagi, melupakan sejarah. Para pemimpin melupakan semangat kemandirian dan rasa percaya diri yang diajarkan Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, H. Agus Salim, Syahrir, dan para funding father-mother bangsa ini. Sungguh pemandangan yang menggelikan ketika para elite pemimpin bangsa ini merasa panas dingin karena Presiden Bush akan mampir ke Indonesia pada akhir 2006 lalu. Pengamanan miliaran rupiah yang diberikan kepada Bush sungguh berlebihan dan sekaligus memalukan. Tidak ada negara manapun yang menyambut Bush seperti raja, kecuali Indonesia pada kepemimpinan SBY-JK. Seolah Indonesia telah menjadi vazal atau negara protektorat AS (halaman 9).

Para pemimpin melupakan kemandirian dan kepercayaan diri karena lebih senang berperan sebagai Amangkurat II yang inlander. Menurut Amien Rais, seperti Amangkurat II, salah satu ciri bangsa inlander adalah ia dihinggapi suatu perasaan nikmat dalam ketergantungan dan tunduk kepada perintah sang tuan. Akibatnya, sampai sekarang kita masih dihinggapi penyakit debt-addict, kecanduan utang. Setiap kali mendapat utang baru dari IGGI (Inter-Govermental Group on Indonesia), para pemimpin kita merasa bangga, ”Kita bersyukur dan bangga sebagai bangsa Indonesia, karena kita masih dipercaya oleh IGGI untuk mengambil utang baru,” katanya. Alhasil, Indonesia menjadi terjebak dalam jeratan utang luar negeri yang makin membesar.

Seperti ditulis John Perkins, bangsa yang tertindih utang besar, mau tidak mau pasti kehilangan bukan saja kemandirian ekonomi, tetapi juga kemandirian politik yang menjadikan bangsa itu tersandera selama hidupnya. Mentalitas inlander juga nampak jelas dalam pengelolaan kekayaan alam, baik migas maupun nonmigas. Freeport di Papua, sejak 1967 menambang emas, perak, dan tembaga di provinsi Indonesia paling timur yang kaya raya dengan sumber daya alam itu. Kontrak Karya I diperbarui pada 1991 untuk masa setengah abad, sehingga Kontrak Karya II baru berakhir pada 2041. Indonesia benar-benar akan hancur apabila tidak diselamatkan.

*****
Buku ini berulang kali mengingatkan penguasa kita akan bahaya korporasi Amerika yang selalu berkaitan erat dengan beberapa kejahatan sekaligus (halaman 161-163). Pertama, kejahatan lingkungan. Buangan limbah (tailings) yang berjumlah 300 ribu ton per hari telah merusak sistem sungai Aghawagon-Otomona-Ajkwa dan beserta ekosistemnya. Kedua, Freeport juga melakukan kejahatan perpajakan alias tidak membayar pajak. Ketiga, kejahatan etika dan moral. Freeport memberi uang sogokan kepada oknum-oknum polisi dan militer dengan dalih administrative costs, security cost, dan lain-lain. Keempat, kejahatan kemanusiaan. Tujuh suku Papua yang punya hak ulayat digusur dari tanah warisan turun-temurun dan di antara mereka meninggal karena peluru satgas Freeport. Kelima, kejahatan menguras kekayaan Indonesia lewat manipulasi administrasi dan menjadikan pusat pertambangan Freeport sebagai industri pertambangan misterius dan rahasia.

Tetapi, pikiran jernih hanya dapat dilakukan oleh bangsa dengan pemimpin yang bermental merdeka, berdaulat dan mandiri. Bagi Amien Rais, bangsa yang belum sembuh dari kolonisasi mental dan lebih nyaman menghamba pada korporatokrasi internasional, tentu memilih yang mudah (halaman 56). Kita sudah merdeka hampir 63 tahun dengan barisan intelektual, geolog, teknisi, dan profesional yang menguasai managerial know how buat pertambangan modern, tapi mereka dipinggirkan dan dilupakan. Pemerintah kita ternyata tidak punya nyali berhadapan dengan administrasi Bush yang ekspansif, agresif dan eksploitatif. Selain itu, masih banyak lagi masalah lain yang tidak kunjung diselesaikan pemerintah, di antaranya yaitu asingisasi penerbangan, perkebunan, perbankan, pertelekomunikasian, pelayaran dan semua proses yang menyebabkan Indonesia menjadi negara komprador, negara pelayan kepentingan asing. Belum lagi soal pencurian pasir oleh Singapura serta sikap Malaysia yang suka meremehkan.

Buku ini juga mencatat sepuluh hal penting yang memprihatinkan yang terjadi dalam tubuh pemerintahan SBY-JK. Sepuluh hal tersebut mengindikasikan broken goverment pada tubuh pemerintahan saat ini. Oleh karena itu, penulis memberikan gagasan untuk menyelamatkan bangsa dari kondisi yang semakin terpuruk. Pertama, secepatnya perlu ada pemimpin alternatif yang bebas dan independen, berwawasan nasional dan internasional, serta diisi oleh kaum muda. Atau dengan kata lain, ”Saatnya Kaum Muda Memimpin Indonesia.” Kedua, pemerintah sudah seharusnya berani bertindak untuk melepaskan diri dari kekuatan korporasi asing dan membangun hubungan dengan negara-negara lainnya sebagai partner, bukan sebagai budak. Hanya dengan cara itulah, Indonesia Raya tercinta dapat diselamatkan. Indonesia Bisa!. (*)

Selasa, 25 September 2012

Philosophy of Journey

Paradigma Profetik menjadikan para Nabi, atau prophet, sebagai rujukan utama bangunan paradigmatik keilmuannya. Misi para nabi untuk memanusiakan manusia, membebaskan manusia dari perbudakan, dan mengajak manusia berjalan menuju Tuhannya, yang menemukan rumusan lengkapnya dalam ‘Amr ma’ruf, Nahiy munkar, dan Tu’minuna biLlah, dijadikan prinsip utama dalam Paradigma Profetik yang memiliki rumusan dasar; 1)Humanisme/Emansipasi, 2)Liberasi, dan 3)Transendensi. Dari tiga rumusan dasar tersebut, kemudian diagendakan lima program intrepretasi praxis yakni; 1)Program penafsiran Al-Quran berdasarkan analisa kepentingan Praxis, 2)Program mendekonstruksi cara berpikir subyektif menuju cara berpikir obyektif, 3)Program mendekonstruksi normatifitas Islam menuju Islam Teoritis, 4)Program mendekonstruksi pemahaman ahistoris menjadi pemahaman yang Historis, dan 5)Program membangun epistemologi Islam khas Indonesia yang mampu membahasakan Wahyu Ilahiyah menjadi suatu pemahaman yang spesifik dan empirik.

Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Adam AS ketika di turunkan ke dunia adalah melakukan proses alami pembentukan peradaban manusia dengan berdasarkan kepada pedoman resmi dari Sang Pencipta Program Kehidupan. Agenda utama alamiah ini adalah menjelaskan prinsip-prinsip penciptaan manusia sehingga dengannya manusia memahami eksistensi sejatinya di dunia. Manusia-manusia yang memahami secara alamiah prinsip-prinsip kemanusiaan sejati akan terbebas dari kesalahan-kesalahan pemikiran dan kesalahan-kesalahan tindakan yang akan menjerumuskan manusia tersebut kedalam kemelut pengabdian yang ditujukan kepada hal-hal yang lain selain Sang Pencipta. Secara alamiah bentuk-bentuk pengabdian yang ditujukan kepada sumber yang keliru akan menempatkan manusia kedalam belenggu-belenggu penjajahan penguasa-penguasa semu yang memaksa manusia tersebut melepaskan kemerdekaan kemanusiaan sejatinya. Agenda alamiah pertama dan utama adalah memberikan pemahaman kepada manusia-manusia generasi baru untuk memahami kemanusiaan sejati dan mengajak mereka secara emansipatif berjalan menuju pengabdian yang sejati dengan melepaskan diri dari belenggu-belenggu kesadaran semu eksistensialisme. Agenda utama ini berjalan secara alamiah seiring dengan alamiahnya proses-proses pembentukan, kelahiran, pembinaan, dan pengembangan manusia-manusia generasi baru yang terlahir. Penting untuk ditegaskan bahwa segala proses alamiah di dunia ini tidak lepas dari perencanaan program yang berasal dari Sang Pencipta sebagai pemilik program kehidupan manusia di dunia. Ada pun prosesnya secara alamiah adalah mengacu kepada kejadian sebagai berikut; pertama menyusun asal dan saripati hidup dari tanah, kedua mengatur proses pembuahan, ketiga proses kejadian bertahap, keempat proses kelahiran generasi, kelima proses tumbuh dan berkembangnya generasi baru, dan keenam proses berakhirnya program kehidupan yakni kematian. Dari proses-proses inilah kehidupan berjalan alami.

“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat”.23:12-16

“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya)”.40:67

Fase Pertama; menyusun asal dari saripati kehidupan

Asal manusia adalah dari saripati kehidupan yang terpilih. Terseleksi dengan baik dari proses-proses alamiah. Bahan baku terbaik dari segala bahan baku yang tersedia di dunia. Saripati kehidupan yang mengalami berbagai dialektika tertentu dalam proses penyusunannya. Sebuah perjalanan dialektika yang tetap berada dalam genggaman pengaturan Sang Pencipta. Saripati yang mengalami proses sintesa dari tesis-tesis masyarakatnya berikut dengan antitesis-antitesisnya. Saripati kehidupan yang tidak asal jadi, tetapi merupakan saripati yang memiliki benih-benih kesadaran kemanusiaan. Saripati kehidupan yang tidak sombong karena sadar betul dari mana dia berasal. Saripati kehidupan yang tidak meng-underestimate dirinya sendiri karena sadar betul bahwa dirinya diciptakan oleh Sang Pencipta yang maha menguasai segala takdir dan capaian kemajuan.

Dengan benih-benih kesadaran kemanusiaan yang dimilikinya, saripati kehidupan secara alami menyusun eksistensinya sebagai manusia yang terlahir dalam alam perjalanan sejarah dunia. Saripati kehidupan yang menyadari secara benar jejak-jejak kebenaran dan kemurnian bangunan peradaban-peradaban manusia di dunia. Saripati kehidupan yang meyakini bahwa eksistensi dirinya tersusun dari cita-cita besar yang melatar belakangi proses kemenjadian dirinya. Saripati kehidupan yang menjadikan segala proses kejadian mengenai dirinya adalah proses pembelajaran terpenting untuk melanjutkan perjalanan ke fase berikutnya.

Fase Kedua; mengatur proses pembuahan

Fase berikutnya adalah menyatunya segala latar belakang potensi berbeda ke dalam satu rahim yang sama. Bersatunya segala cikal bakal eksistensi ke dalam sebuah naungan kasih sayang rahimiyah yang sama, dijalin dengan silaturrahim dan ucapan salam kesejahteraan dan keselamatan. Dari jalinan silaturahim ini kemudian memunculkan sebuah komitmen diri yang sarat integritas tinggi akan kemanusiaan. Sebuah komitmen yang akan mengantarkan benih-benih kesadaran kepada satu-satunya buah terbaik, yakni dedikasi tertinggi hanya bagi Sang Pencipta. Sebuah komitmen transendental yang merupakan cikal bakal sejarah manusia dan janin dari peradaban kemanusiaannya.

Janin-janin peradaban manusia berisikan pribadi-pribadi yang berkomitmen terhadap kemanusiaan dan gandrung akan kesadaran pembebasan dan kemerdekaan. Komitmen yang tangguh karena berdiri bersama para penjungjung tinggi komitmen yang tidak mengandung sedikit pun maksud khianat dan muslihat dalam komitmennya. Komitmen yang rendah hati karena kesombongannya sirna dengan menganugerahkan dedikasi kemanusiaan tertinggi hanya bagi Sang Pencipta Kemanusiaan manusia. Janin peradaban yang telah siap dengan segala potensinya untuk tetap menyusuri jalan-jalan perubahan diri dan masyarakatnya menuju kemerdekaan sejati; liberasi transendental. Dan yang terpenting dari semuanya adalah bahwa janin peradaban ini telah siap untuk tetap bertahan melangkahkan diri ke dalam fase kejadian selanjutnya.

Fase Ketiga; melalui proses kejadian bertahap

Fase berikutnya adalah beberapa tahap pembentukan yang terjadi dalam rahim, dari mula segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian menjadi tulang belulang, dan tulang itu kemudian dibungkus dengan daging, hingga akhirnya menjadi sesosok makhluk yang sama sekali baru. Fase ketiga ini merupakan fase dimana kesadaran transendental terbentuk. Dari mula wacana teoritis yang terkesan tanpa arah dan tujuan, kemudian tahap wacana teoritis ini mencoba berdiri kokoh dalam alur-alur aktualisasi teoritis menjadi praxis. Dan kemudian wacana praxis ini menjadi kerangka dasar yang menopang sistematika kesadaran kemanusian manusia. Pemahaman yang sistematis tentang kemanusiaan sejati akan mengantarkan perjalanan kesadaran seorang manusia pada satu tahap dimana komitmen praxis dan integritas dirinya benar-benar diuji oleh realitas masyarakatnya yang memiliki proses-proses sejarah dan perubahan-perubahan format peradaban. Dalam tahap inilah segala hal mengenai diri manusia dan eksistensi dirinya dipaksa untuk dapat berpacu dengan realitas yang bergerak. Jantungnya harus mulai berdetak, aliran darahnya harus mulai mengalir, dan pada saatnya nanti nafasnya harus seirama dengan deru nafas perkembangan peradaban masyarakatnya.

Untuk menjadi pribadi yang benar-benar baru haruslah memiliki modal kesiapan terhadap segala sesuatu yang baru pula. Tanpa kesiapan menghadapi situasi yang baru dalam setiap tahapan pembentukannya seorang manusia tidak akan mampu bertahan dalam kandungan rahim peradaban. Tidak bertahan berarti diam tidak bergerak. Jantungnya diam tidak berdetak, aliran darahnya sama sekali gagal mengalir, dan nafasnya tidak berhembus. Walaupun sang rahim tetap mengalirkan suplemen-suplemen kehidupan, janin tadi tidak meresponnya dengan baik. Akibatnya sang janin gagal terlahirkan ke dunia. Eksistensi sang janin yang gagal akan menjadi bagian dari sesuatu yang tersia-sia dan disia-siakan peradaban. Walaupun demikian tetap lah bahwa semua proses menjadi sebuah rencana tak terduga dari Sang Pencipta yang pasti akan mengganti sesuatu yang sia-sia dengan yang lebih berharga bahkan jauh lebih baik. Modal kesiapan terhadap yang serba tak terduga merupakan sebuah keyakinan tak terbantahkan tentang adanya sebuah perencanaan maha sempurna dari Sang Pencipta. Dan setelah melalui semua tahap dalam fase pembentukan ini, maka manusia telah siap menyosong eksistensi barunya dalam fase berikutnya.

Fase Keempat; proses kelahiran generasi

Fase berikutnya adalah fase kelahiran generasi. Setiap jabang bayi yang baru terlahir selalu menangis dengan keras agar mampu menyesuaikan irama nafasnya dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini merupakan pernyataan kebebasannya dari setiap bentuk belenggu yang mengekang eksistensi dirinya selama ini. Kemerdekaan sejati yang murni merupakan sensasi kebahagiaan yang sebenarnya. Sensasi eksistensi yang benar-benar telah sampai ke tahap liberasi transendental. Bagi eksistensinya yang baru, tidak ada secuil pun kenyataan dalam dunianya yang sia-sia. Semua kenyataan barunya merupakan bahan-bahan yang eksploratif dan serba menarik. Generasi baru ini tidak akan mau berhenti bergerak. Jantungnya terus berdetak kencang seiring aliran darahnya yang deras mengalir dalam tubuhnya. Nafasnya seirama dengan deru nafas peradaban sehingga sama sekali tidak terasakan banyaknya oksigen yang dihisap dan dipompakan oleh jantung melalui aliran darah ke sekujur tubuhnya. Generasi-generasi baru yang mewarisi prinsip kemanusiaan sejatinya tidak akan pernah merasakan kelelahan dan kebosanan dalam bergerak dan terus tumbuh membentuk peradaban. Dalam nadinya mengalir darah perubahan dan semangat kemerdekaan yang membara. Apa pun tentangan dan hambatan adalah batu uji yang mempertajam pisau analisanya tentang dinamika masyarakat yang bergerak dan terus bergerak. Eksistensinya mengalir seiring dengan aliran perubahan dalam sejarah peradaban manusia. Eksistensinya telah siap menyongsong fase selanjutnya.

Fase Kelima; proses tumbuh dan berkembangnya generasi

Fase berikutnya adalah fase dimana sang jabang bayi bergerak tumbuh menuju kedewasaan. Tidak ada manusia dalam peradaban yang tumbuh sendirian tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya. Proses tumbuhnya sang bayi peradaban menuju eksistensinya yang utama berproses seiring dengan perkembangan masyarakat di lingkup sosial dimana dia berada. Dalam seting sejarah dimana dia dilahirkan, sang bayi perubahan tumbuh menjadi anak dewasa yang berwawasan luas. Bersama dengan masyarakatnya, sang bayi perubahan bangkit menuju kesadaran dewasa yang mandiri dan melepaskan diri beserta masyarakatnya dari belenggu-belenggu penjajahan dan hegemoni bangsa lain. Berkembangnya sebuah generasi merupakan proses sosial yang melibatkan komunitas tercerahkan yang terus berkembang membesarkan dirinya. Hingga akhirnya membentuk peradaban.

Bagi manusia pada fase ini tugas hidupnya telah jelas tergambarkan dan termanifestasikan dengan rinci. Satu-satunya arah tugas hidupnya adalah bergerak tumbuh dan mengembangkan diri beserta seluruh potensi eksistensi dirinya. Tidak ada arah lain, dan tidak ada orientasi yang lain selain dedikasi tertinggi bagi Sang Pencipta. Tujuannya hanya satu, yakni prestasi setinggi-tingginya di akherat. Dunia baginya hanyalah fasilitas penunjang terpenting untuk akheratnya. Capaian kemenangan peradaban manusia di dunia adalah cita-citanya tertinggi. Dengan kesadaran kemanusiaan yang utuh sebagai mujahid-mujahid peradaban, tidak ada satu pun aral yang melintang dan hambatan yang dihadapinya selain dengan keyakinan bahwa Sang Pencipta telah menyediakan segalanya untuk mengembangkan diri dan masyarakatnya. Takdir sejarah telah menjadi bagian dari dirinya. Realitas adalah rute tempuh yang menegaskan takdir kemanusiaannya. Dan manusia pengembang generasi telah siap untuk menyongsong akheratnya.

Fase Keenam; proses berakhirnya program kehidupan yakni kematian

Fase keenam adalah fase dimana segala realitas di dunia akan tiba pada akhir perjalanan proses. Sebuah fase dimana segala program kehidupan yang dirancang dan dikendalikan Sang Pencipta telah mencapai ujung perjalanannya yang terakhir. Sebuah fase yang menjadi akhir dari tugas manusia dihadirkan eksistensinya di dunia. Sebuah fase yang bagi mujahid-mujahid peradaban merupakan saatnya beristirahat. Saatnya mengukur sejauhmana perjalanan perjuangan kemanusiaannya telah berhasil dilalui. Dan merupakan tempat dimana segala sesuatunya kemudian diperhitungkan serta mendapatkan balasan terhadap apa yang telah diperbuat manusia dengan eksistensinya di dunia.

Bagi manusia yang tidak melakukan perjalanan menuju liberasi transendental, fase terakhir ini merupakan bencana karena sudah tertutupnya kesempatan yang sangat berharga untuk menentukan nilai dan harga dirinya dihadapan Sang Pencipta. bagi mereka yang menolak terlibat secara emansipatif dalam proses liberalisasi transendentif ini, maka selamanya dirinya tidak akan menemukan makna dan harga dari eksistensi dirinya di dunia. Bagi yang tidak memerdekakan dirinya sendiri dari belenggu eksistensialisme semu dan hegemoni semu yang melingkupi dirinya selama ini, maka fase ini menegaskan keterjajahan abadinya.

“Kami Telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila kami menghendaki, kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) Ini adalah suatu peringatan, Maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya”.76:28-29

oleh : Iskandar Gunawidjaya S.Sos
 


Senin, 24 September 2012

KEMI (Cinta Kebebasan yang tersesat)


Adalah novel Ustadz Dr. Adian Husaini. Terbitan pertama oleh Gema Insani Press pada bulan Syawal 1431. Berukuran 18,3 cm dengan tebal 316 halaman.
Novel ini berkisah tentang Rahmat. Seorang santri cerdas yang diutus Kyai-nya ke Institute Damai-Sentosa, tempat sahabatnya Kemi melanjutkan pendidikan. Ia membawa misi mengembalikan Kemi ke pesantren. mengembalikannya ke Islam. Mengajaknya bertaubat dari pemikiran liberal yang selama ini digelutinya.
Misinya ke Jakarta mempertemukannya dengan Siti. Anak Kyai terkenal yang juga kuliah di Damai-Sentosa. Seperti Kemi, ia juga terjangkit virus liberal.
Sejak pertama kuliah di Damai-Sentosa, Rahmat tak bergeming sedikitpun untuk pindah keyakinan. Ia tetap teguh dengan Islam. Ia tak latah pada dogma “semua agama sama.” Hal ini menarik perhatian Siti. Yang diam-diam ternyata menyadari kekeliruannya selama ini.
Siti bertaubat dari kesalahannya. Dosa menyebarkan paham pluralisme agama, liberalisme, dan multikultarlisme, membayangi dirinya. Ia menceritakan pengalaman pahit yang sesungguhnya tersembunyi oleh Kemi dan komplotannya.
Hingga suatu hari seorang Kyai terkenal berkunjung ke kampus Rahmat. Ia menggelar diskusi tentang pluralisme agama. Rahmat yang hadir saat itu tidak membiarkan dirinya diam. Ia lantang menyuarakan kebenaran. membantah sang Kyai. Ia bahkan nekat mengambil mikrofon dan tampil ke depan mengajak peserta diskusi kembali ke jalan yang benar. Sesaat kemudian sang Kyai meninggal dunia setelah sempat berpesan bahwa ia mengakui kesalahannya dan Rahmat-lah yang benar.
Kejadian ini membuat gempar Kemi dan komplotannya. Ini menjadi titik balik rencana jahat atas Kemi dan Siti. Siti ternyata ketahuan membocorkan rahasia komplotan Kemi kepada Rahmat. Siti akhrinya diracun namun berhasil sembuh. Adapun Kemi, karena dianggap paling bertanggung jawab, ia dihajar habis-habisan oleh algojo rekannya sendiri.
Rahmat akhirnya kembali ke pesantren. Kemi masih di rumah sakit. Tampaknya ia kehilangan memori. Tampak dari pintu kaca ia memegang sebuah mainan sambil sesekali tertawa dan menangis. Siti yang sempat ditolak oleh orang tuanya karena liberal, juga telah diterima kembali.
Membaca novel ini seakan-akan kita telah membaca semua buku yang membantah syubhat-syubhat liberalisme, pluralisme agama, dan multikulturalisme. Paham-paham yang dijajakan untuk menjajah dunia ketiga dengan mudah disingkap segala boroknya. Penulis juga menampilkan wajah sesungguhnya para aktifis liberal. Misalnya, sekalipun mengaku semua agama benar mereka bahkan tidak konsisten melaksanakan ibadah satu agama tertentu. Mereka netral agama. Penulis juga mengungkap fakta memalukan, bahwa orang-orang liberal, senantiasa menyewa algojo untuk menghabisi rekannya sendiri yang dianggap berkhianat. Lebih dari itu, motif politik dan ekonomi dari negara-negara maju ditelanjangi dalam novel ini.

Laskar Pelangi


Diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh penulisnya sendiri, buku “Laskar Pelangi” menceritakan kisah masa kecil anak-anak kampung dari suatu komunitas Melayu yang sangat miskin Belitung. Anak orang-orang ‘kecil’ ini mencoba memperbaiki masa depan dengan menempuh pendidikan dasar dan menengah di sebuah lembaga pendidikan yang puritan. Bersebelahan dengan sebuah lembaga pendidikan yang dikelola dan difasilitasi begitu modern pada masanya, SD Muhammadiyah-sekolah penulis ini, tampak begitu papa dibandingkan dengan sekolah-sekolah PN Timah (Perusahaan Negara Timah). Mereka, para native Belitung ini tersudut dalam ironi yang sangat besar karena kemiskinannya justru berada di tengah-tengah gemah ripah kekayaan PN Timah yang mengeksploitasi tanah ulayat mereka.

Kesulitan terus menerus membayangi sekolah kampung itu. Sekolah yang dibangun atas jiwa ikhlas dan kepeloporan dua orang guru, seorang kepala sekolah yang sudah tua, Bapak Harfan Efendy Noor dan ibu guru muda, Ibu Muslimah Hafsari, yang juga sangat miskin, berusaha mempertahankan semangat besar pendidikan dengan terseok-seok. Sekolah yang nyaris dibubarkan oleh pengawas sekolah Depdikbud Sumsel karena kekurangan murid itu, terselamatkan berkat seorang anak idiot yang sepanjang masa bersekolah tak pernah mendapatkan rapor. Sekolah yang dihidupi lewat uluran tangan para donatur di komunitas marjinal itu begitu miskin: gedung sekolah bobrok, ruang kelas beralas tanah, beratap bolong-bolong, berbangku seadanya, jika malam dipakai untuk menyimpan ternak, bahkan kapur tulis sekalipun terasa mahal bagi sekolah yang hanya mampu menggaji guru dan kepala sekolahnya dengan sekian kilo beras-sehingga para guru itu terpaksa menafkahi keluarganya dengan cara lain. Sang kepala sekolah mencangkul sebidang kebun dan sang ibu guru menerima jahitan.

Kendati demikian, keajaiban seakan terjadi setiap hari di sekolah yang dari jauh tampak seperti bangunan yang akan roboh. Semuanya terjadi karena sejak hari pertama kelas satu sang kepala sekolah dan sang ibu guru muda yang hanya berijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri) telah berhasil mengambil hati sebelas anak-anak kecil miskin itu.

Dari waktu ke waktu mereka berdua bahu membahu membesarkan hati kesebelas anak-anak marjinal tadi agar percaya diri, berani berkompetisi, agar menghargai dan menempatkan pendidikan sebagai hal yang sangat penting dalam hidup ini. Mereka mengajari kesebelas muridnya agar tegar, tekun, tak mudah menyerah, dan gagah berani menghadapi kesulitan sebesar apapun. Kedua guru itu juga merupakan guru yang ulung sehingga menghasilkan seorang murid yang sangat pintar dan mereka mampu mengasah bakat beberapa murid lainnya. Pak Harfan dan Bu Mus juga mengajarkan cinta sesama dan mereka amat menyayangi kesebelas muridnya. Kedua guru miskin itu memberi julukan kesebelas murid itu sebagai para Laskar Pelangi.

Keajaiban terjadi ketika sekolah Muhamaddiyah, dipimpin oleh salah satu laskar pelangi mampu menjuarai karnaval mengalahkan sekolah PN dan keajaiban mencapai puncaknya ketika tiga orang anak anggota laskar pelangi (Ikal, Lintang, dan Sahara) berhasil menjuarai lomba cerdas tangkas mengalahkan sekolah-sekolah PN dan sekolah-sekolah negeri. Suatu prestasi yang puluhan tahun selalu digondol sekolah-sekolah PN.

Tak ayal, kejadian yang paling menyedihkan melanda sekolah Muhamaddiyah ketika Lintang, siswa paling jenius anggota laskar pelangi itu harus berhenti sekolah padahal cuma tinggal satu triwulan menyelesaikan SMP. Ia harus berhenti karena ia anak laki-laki tertua yang harus menghidupi keluarga sebab ketika itu ayahnya meninggal dunia. Native Belitong kembali dilanda ironi yang besar karena seorang anak jenius harus keluar sekolah karena alasan biaya dan nafkah keluarga justru disekelilingnya PN Timah menjadi semakin kaya raya dengan mengekploitasi tanah leluhurnya.

Meskipun awal tahun 90-an sekolah Muhamaddiyah itu akhirnya ditutup karena sama sekali sudah tidak bisa membiayai diri sendiri tapi semangat, integritas, keluruhan budi, dan ketekunan yang diajarkan Pak Harfan dan Bu Muslimah tetap hidup dalam hati para laskar pelangi. Akhirnya kedua guru itu bisa berbangga karena diantara sebelas orang anggota laskar pelangi sekarang ada yang menjadi wakil rakyat, ada yang menjadi research and development manager di salah satu perusahaan multi nasional paling penting di negeri ini, ada yang mendapatkan bea siswa international kemudian melakukan research di University de Paris, Sorbonne dan lulus S2 dengan predikat with distinction dari sebuah universitas terkemuka di Inggris. Semua itu, buah dari pendidikan akhlak dan kecintaan intelektual yang ditanamkan oleh Bu Mus dan Pak Harfan. Kedua orang hebat yang mungkin bahkan belum pernah keluar dari pulau mereka sendiri di ujung paling Selatan Sumatera sana.

Banyak hal-hal inspiratif yang dimunculkan buku ini. Buku ini memberikan contoh dan membesarkan hati. Buku ini memperlihatkan bahwa di tangan seorang guru, kemiskinan dapat diubah menjadi kekuatan, keterbatasan bukanlah kendala untuk maju, dan pendidikan bermutu memiliki definisi dan dimensi yang sangat luas. Paling tidak laskar pelangi dan sekolah miskin Muhamaddiyah menunjukkan bahwa pendidikan yang hebat sama sekali tak berhubungan dengan fasilitas. Terakhir cerita laskar pelangi memberitahu kita bahwa bahwa guru benar-benar seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

API SEJARAH 2




SINOPSIS:

Buku API SEJARAH 2, buku yang akan menuntaskan kepenasaran anda akan kebenaran sejarah Indonesia.

API SEJARAH 2 merupakan jilid ke-2 dari bestseller API SEJARAH yang mengungkap semua fakta yang tersembunyi dan disembunyikan tentang mahakarya Ulama dan Santri dalam menegakkan NKRI.

Buku yang sungguh berani ini, pernah dinyatakan hilang dan terancam tidak jadi terbit ketika draft naskahnya "dicuri" oleh "peminjam tanpa permisi" saat seminar API SEJARAH di Gedung Juang '45, Pemerintah Kotamadya Sukabumi.

Melalui buku API SEJARAH 2 ini, Ahmad Mansur Suryanegara membongkar upaya deislamisasi penulisan sejarah Indonesia yang sudah berlangsung lama, sekaligus merumuskan rasa kepenasaran Anda akan kebenaran sejarah bangsa Indonesia.

***

AHMAD Mansur Suryanegara menerbitkan buku baru berjudul “Api Sejarah: Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan NKRI”. Dosen luar biasa di jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung dan UNPAD ini kembali membuka persoalan sejarah yang ditutup oleh rezim Orde Baru. 

Sebagai informasi, buku “Api Sejarah” ini isinya membongkar sejarah yang disembunyikan, khususnya kezaliman kaum nasionalis dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, penghilangan jejak peran ulama dan organisasi Islam dalam menegakkan NKRI, dan membongkar perselingkuhan kaum priyayi dengan penjajah Belanda. 

Pasti sangat mengagetkan. Mengapa? Karena jika dilihat dari tinjauan ilmu sejarah, karya Pak Mansur ini bisa disebut sebagai historiografi politik Islam Indonesia versi sejarawan lokal. Kebenaran isinya, tentu sangat tergantung dari data, fakta, dan analisa serta tafsir yang digunakannya. Pastinya akan “mengagetkan” mereka yang selama ini menjadikan buku-buku sejarah versi Nugroho Notosusanto, Asvi Warwan, Sartono Kartodirjo, dan lainnya, sebagai buku yang valid dalam sejarah Indonesia. 

Mengapa mengagetkan? Karena isi buku ini menggabungkan antara sejarah Indonesia versi nasional dengan versi Islam. Salah satunya “gugatan” tentang hari kebangkitan nasional dan pembeberan beberapa organisasi pergerakan Indonesia yang sebenarnya tidak berjuang untuk Indonesia, tetapi untuk penjajah. 

Si penulis menguraikan, didirikannya Boedi Oetomo adalah untuk menandingi gerakan umat Islam yang bernama Jamiat Choir (hal.319) dan Serikat Dagang Islamiyah di Bogor sebagai tandingan dari Syarikat Dagang Islam (hal.326) yang kehadirannya mengkhawatirkan eksistensi perekonomian dan kepentingan imperialisme Belanda. Juga tafsirnya tentang sang saka “Merah Putih” sebagai bendera Rasulullah saw.

Bahkan, Ahmad Mansur Suryanegara juga menyajikan fakta tentang penghinaan terhadap Rasulullah saw yang dilakukan Partai Indonesia Raja (Parindra) pimpinan Dr.Soetomo dengan menurunkan artikel di Madjalah Bangoen, 15 Oktober 1937 (hal.508). Lebih banyak lagi persoalan sejarah yang dibongkar dalam buku Api Sejarah ini. 

Pendeknya, buku yang lebih dari 600 halaman ini dapat disebut semacam penulisan ulang sejarah Indonesia baru atau membongkar historiografi nasional Indonesia yang ditulis para sejarawan istana.

 ***

BERIKUT ini ada beberapa komentar tentang buku tersebut:

"Sungguh para pembaca sangat perlu menelaah buku API SEJARAH karya Ahmad Mansur Suryanegara ini karena merupakan fakta sejarah yang mengungkap kontribusi para Ulama dan Santri dalam memperjuangkan Islam dan bangsa Indonesia. Hal ini bisa menjadi teladan dan pendorong umat Islam di Indonesia untuk berperan sebagai pejuang bagi agama, bangsa, dan agama." (Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA., Pimpinan Ponpes Modern Darussalam Gontor)

“Buku yang seharusnya menggugah kesadaran berbangsa pada pangkalnya… Prof. Mansur telah mendudukkan sejarah sungguh sebagai sejarah: bukan hanya catatan peristiwa masa lalu, melainkan peristiwanya itu sendiri. HISTORIA VITAE MAGISTRA itulah yang dipertahankan guru besar yang selalu saya kagumi ini.” (N.Syamsuddin Ch.Haesy, kolumnis dan pegiat pemberdayaan masyarakat)

"Sejarah memang sarat dengan kepentingan. Itu sebabnya, banyak manipulasi di dalamnya. Sayangnya, kesadaran sejarah di kalangan Umat Islam sangat rendah. Padahal, dahulu kita memiliki sejarahwan-sejarahwan unggul: Thabari, Mas'udi, Ibn Hisyam, Ibn al-Atsir, Ibn Khaldun, dan masih banyak lagi. Karena itu, buku yang ditulis Prof. Mansur sangat berharga untuk menjernihkan sejarah. Semoga banyak lagi sejarahwan Islam yang memiliki kepedulian seperti Prof. Mansur." (Prof.Dr.H.Afif Muhammad,M.A, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

"Sejarah adalah pohon dan pohon yang tumbuh di hutan belantara tetapi punya identitas, sering orang yang tidak seidentitas mau memahami pohon tersebut, akhirnya yang dipahami adalah cabang dan rantingnya, seangkan inti batangnya tidak, sejarah harus diakhronik tidak cukup dengan sinkronik, bukan begitu guruku?" (Aam Abdillah, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

“Prof. Mansur Suryanegaraa adalah seorang sejarawan simbolis. Ia seorang pembaca fakta simbol yang handal yang tak ada duanya di kalangan sejarawan, bahkan di seluruh dunia. Fakta sejarah di tangannya menjadi berwarna, unik, hidup, menunjukkan sisi-sisi yang tak terbaca dari sebuah fakta dan oleh karenanya sering mengejutkan. Ini yang tidak dimiliki para sejarawan lain. Sebagai pembaca simbol, ia sangat peka dengan fakat-fakta historis dan menangkapnya secara simbolik. Tapi, ini menghadirkan resiko. Bacaannya menjadi sering tak dimengerti oleh kalangan sejarawan konvensional. Buku dahsyat ini, tentu sangat historis dan berbasis tradisi ilmiah. Tapi, oleh Pak Mansur, dilengkapi dan dihidupkan dengan tatapan simbolik tersebut, menjadikannya menjadi enak dibaca, perlu bahkan wajib bagi yang ingin 
sejarah Indonesia sesungguhnya. Ala kulli hal, saya tahu, buku ini disuguhkan dengan penuh takzim oleh beliau kepada segmentasi masyarakat yang sangat dihormatinya; Ulama. Untuk merekalah mahakarya ini didedikasikan. Generasi pembawa risalah nubuwah yang membawa pencerahan masyarakat melalui kebenaran dan spiritual enlightenment!" (Moeflich Hasbullah, Asisten dan murid Prof.Mansur SN di Jurusan SPI UIN Bandung)

***



API SEJARAH


SINOPSIS : 


AHMAD Mansur Suryanegara menerbitkan buku  berjudul “Api Sejarah: Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan NKRI”. Dosen luar biasa di jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung dan UNPAD ini kembali membuka persoalan sejarah yang ditutup oleh rezim Orde Baru. 

Sebagai informasi, buku “Api Sejarah” ini isinya membongkar sejarah yang disembunyikan, khususnya kezaliman kaum nasionalis dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, penghilangan jejak peran ulama dan organisasi Islam dalam menegakkan NKRI, dan membongkar perselingkuhan kaum priyayi dengan penjajah Belanda. 

Pasti sangat mengagetkan. Mengapa? Karena jika dilihat dari tinjauan ilmu sejarah, karya Pak Mansur ini bisa disebut sebagai historiografi politik Islam Indonesia versi sejarawan lokal. Kebenaran isinya, tentu sangat tergantung dari data, fakta, dan analisa serta tafsir yang digunakannya. Pastinya akan “mengagetkan” mereka yang selama ini menjadikan buku-buku sejarah versi Nugroho Notosusanto, Asvi Warwan, Sartono Kartodirjo, dan lainnya, sebagai buku yang valid dalam sejarah Indonesia. 

Mengapa mengagetkan? Karena isi buku ini menggabungkan antara sejarah Indonesia versi nasional dengan versi Islam. Salah satunya “gugatan” tentang hari kebangkitan nasional dan pembeberan beberapa organisasi pergerakan Indonesia yang sebenarnya tidak berjuang untuk Indonesia, tetapi untuk penjajah. 

Si penulis menguraikan, didirikannya Boedi Oetomo adalah untuk menandingi gerakan umat Islam yang bernama Jamiat Choir (hal.319) dan Serikat Dagang Islamiyah di Bogor sebagai tandingan dari Syarikat Dagang Islam (hal.326) yang kehadirannya mengkhawatirkan eksistensi perekonomian dan kepentingan imperialisme Belanda. Juga tafsirnya tentang sang saka “Merah Putih” sebagai bendera Rasulullah saw.

Bahkan, Ahmad Mansur Suryanegara juga menyajikan fakta tentang penghinaan terhadap Rasulullah saw yang dilakukan Partai Indonesia Raja (Parindra) pimpinan Dr.Soetomo dengan menurunkan artikel di Madjalah Bangoen, 15 Oktober 1937 (hal.508). Lebih banyak lagi persoalan sejarah yang dibongkar dalam buku Api Sejarah ini. 

Pendeknya, buku yang lebih dari 600 halaman ini dapat disebut semacam penulisan ulang sejarah Indonesia baru atau membongkar historiografi nasional Indonesia yang ditulis para sejarawan istana.

 ***

BERIKUT ini ada beberapa komentar tentang buku tersebut:

"Sungguh para pembaca sangat perlu menelaah buku API SEJARAH karya Ahmad Mansur Suryanegara ini karena merupakan fakta sejarah yang mengungkap kontribusi para Ulama dan Santri dalam memperjuangkan Islam dan bangsa Indonesia. Hal ini bisa menjadi teladan dan pendorong umat Islam di Indonesia untuk berperan sebagai pejuang bagi agama, bangsa, dan agama." (Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA., Pimpinan Ponpes Modern Darussalam Gontor)

“Buku yang seharusnya menggugah kesadaran berbangsa pada pangkalnya… Prof. Mansur telah mendudukkan sejarah sungguh sebagai sejarah: bukan hanya catatan peristiwa masa lalu, melainkan peristiwanya itu sendiri. HISTORIA VITAE MAGISTRA itulah yang dipertahankan guru besar yang selalu saya kagumi ini.” (N.Syamsuddin Ch.Haesy, kolumnis dan pegiat pemberdayaan masyarakat)

"Sejarah memang sarat dengan kepentingan. Itu sebabnya, banyak manipulasi di dalamnya. Sayangnya, kesadaran sejarah di kalangan Umat Islam sangat rendah. Padahal, dahulu kita memiliki sejarahwan-sejarahwan unggul: Thabari, Mas'udi, Ibn Hisyam, Ibn al-Atsir, Ibn Khaldun, dan masih banyak lagi. Karena itu, buku yang ditulis Prof. Mansur sangat berharga untuk menjernihkan sejarah. Semoga banyak lagi sejarahwan Islam yang memiliki kepedulian seperti Prof. Mansur." (Prof.Dr.H.Afif Muhammad,M.A, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

"Sejarah adalah pohon dan pohon yang tumbuh di hutan belantara tetapi punya identitas, sering orang yang tidak seidentitas mau memahami pohon tersebut, akhirnya yang dipahami adalah cabang dan rantingnya, seangkan inti batangnya tidak, sejarah harus diakhronik tidak cukup dengan sinkronik, bukan begitu guruku?" (Aam Abdillah, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

“Prof. Mansur Suryanegaraa adalah seorang sejarawan simbolis. Ia seorang pembaca fakta simbol yang handal yang tak ada duanya di kalangan sejarawan, bahkan di seluruh dunia. Fakta sejarah di tangannya menjadi berwarna, unik, hidup, menunjukkan sisi-sisi yang tak terbaca dari sebuah fakta dan oleh karenanya sering mengejutkan. Ini yang tidak dimiliki para sejarawan lain. Sebagai pembaca simbol, ia sangat peka dengan fakat-fakta historis dan menangkapnya secara simbolik. Tapi, ini menghadirkan resiko. Bacaannya menjadi sering tak dimengerti oleh kalangan sejarawan konvensional. Buku dahsyat ini, tentu sangat historis dan berbasis tradisi ilmiah. Tapi, oleh Pak Mansur, dilengkapi dan dihidupkan dengan tatapan simbolik tersebut, menjadikannya menjadi enak dibaca, perlu bahkan wajib bagi yang ingin 
sejarah Indonesia sesungguhnya. Ala kulli hal, saya tahu, buku ini disuguhkan dengan penuh takzim oleh beliau kepada segmentasi masyarakat yang sangat dihormatinya; Ulama. Untuk merekalah mahakarya ini didedikasikan. Generasi pembawa risalah nubuwah yang membawa pencerahan masyarakat melalui kebenaran dan spiritual enlightenment!" (Moeflich Hasbullah, Asisten dan murid Prof.Mansur SN di Jurusan SPI UIN Bandung)

***

Sabtu, 22 September 2012

Aku Menangis untuk Adikku Sebanyak Enam Kali


AKU dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang kelihatannya semua gadis di sekelilingku membawanya. Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi.

Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.” Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik, hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu lemah? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menghulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku, “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan,”Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu di tubuh adikku, dan tercekat dalam kata-kataku, “Aku tidak peduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa sahabatku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang lebih awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu…”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya,dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Berulang kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, jika meninggalkan dusun, kami tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur di pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku berada diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.” Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

“Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sepasang sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling berhak mendapatkan ucapan terima kasih dariku adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.