Selasa, 25 September 2012

Philosophy of Journey

Paradigma Profetik menjadikan para Nabi, atau prophet, sebagai rujukan utama bangunan paradigmatik keilmuannya. Misi para nabi untuk memanusiakan manusia, membebaskan manusia dari perbudakan, dan mengajak manusia berjalan menuju Tuhannya, yang menemukan rumusan lengkapnya dalam ‘Amr ma’ruf, Nahiy munkar, dan Tu’minuna biLlah, dijadikan prinsip utama dalam Paradigma Profetik yang memiliki rumusan dasar; 1)Humanisme/Emansipasi, 2)Liberasi, dan 3)Transendensi. Dari tiga rumusan dasar tersebut, kemudian diagendakan lima program intrepretasi praxis yakni; 1)Program penafsiran Al-Quran berdasarkan analisa kepentingan Praxis, 2)Program mendekonstruksi cara berpikir subyektif menuju cara berpikir obyektif, 3)Program mendekonstruksi normatifitas Islam menuju Islam Teoritis, 4)Program mendekonstruksi pemahaman ahistoris menjadi pemahaman yang Historis, dan 5)Program membangun epistemologi Islam khas Indonesia yang mampu membahasakan Wahyu Ilahiyah menjadi suatu pemahaman yang spesifik dan empirik.

Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Adam AS ketika di turunkan ke dunia adalah melakukan proses alami pembentukan peradaban manusia dengan berdasarkan kepada pedoman resmi dari Sang Pencipta Program Kehidupan. Agenda utama alamiah ini adalah menjelaskan prinsip-prinsip penciptaan manusia sehingga dengannya manusia memahami eksistensi sejatinya di dunia. Manusia-manusia yang memahami secara alamiah prinsip-prinsip kemanusiaan sejati akan terbebas dari kesalahan-kesalahan pemikiran dan kesalahan-kesalahan tindakan yang akan menjerumuskan manusia tersebut kedalam kemelut pengabdian yang ditujukan kepada hal-hal yang lain selain Sang Pencipta. Secara alamiah bentuk-bentuk pengabdian yang ditujukan kepada sumber yang keliru akan menempatkan manusia kedalam belenggu-belenggu penjajahan penguasa-penguasa semu yang memaksa manusia tersebut melepaskan kemerdekaan kemanusiaan sejatinya. Agenda alamiah pertama dan utama adalah memberikan pemahaman kepada manusia-manusia generasi baru untuk memahami kemanusiaan sejati dan mengajak mereka secara emansipatif berjalan menuju pengabdian yang sejati dengan melepaskan diri dari belenggu-belenggu kesadaran semu eksistensialisme. Agenda utama ini berjalan secara alamiah seiring dengan alamiahnya proses-proses pembentukan, kelahiran, pembinaan, dan pengembangan manusia-manusia generasi baru yang terlahir. Penting untuk ditegaskan bahwa segala proses alamiah di dunia ini tidak lepas dari perencanaan program yang berasal dari Sang Pencipta sebagai pemilik program kehidupan manusia di dunia. Ada pun prosesnya secara alamiah adalah mengacu kepada kejadian sebagai berikut; pertama menyusun asal dan saripati hidup dari tanah, kedua mengatur proses pembuahan, ketiga proses kejadian bertahap, keempat proses kelahiran generasi, kelima proses tumbuh dan berkembangnya generasi baru, dan keenam proses berakhirnya program kehidupan yakni kematian. Dari proses-proses inilah kehidupan berjalan alami.

“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat”.23:12-16

“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya)”.40:67

Fase Pertama; menyusun asal dari saripati kehidupan

Asal manusia adalah dari saripati kehidupan yang terpilih. Terseleksi dengan baik dari proses-proses alamiah. Bahan baku terbaik dari segala bahan baku yang tersedia di dunia. Saripati kehidupan yang mengalami berbagai dialektika tertentu dalam proses penyusunannya. Sebuah perjalanan dialektika yang tetap berada dalam genggaman pengaturan Sang Pencipta. Saripati yang mengalami proses sintesa dari tesis-tesis masyarakatnya berikut dengan antitesis-antitesisnya. Saripati kehidupan yang tidak asal jadi, tetapi merupakan saripati yang memiliki benih-benih kesadaran kemanusiaan. Saripati kehidupan yang tidak sombong karena sadar betul dari mana dia berasal. Saripati kehidupan yang tidak meng-underestimate dirinya sendiri karena sadar betul bahwa dirinya diciptakan oleh Sang Pencipta yang maha menguasai segala takdir dan capaian kemajuan.

Dengan benih-benih kesadaran kemanusiaan yang dimilikinya, saripati kehidupan secara alami menyusun eksistensinya sebagai manusia yang terlahir dalam alam perjalanan sejarah dunia. Saripati kehidupan yang menyadari secara benar jejak-jejak kebenaran dan kemurnian bangunan peradaban-peradaban manusia di dunia. Saripati kehidupan yang meyakini bahwa eksistensi dirinya tersusun dari cita-cita besar yang melatar belakangi proses kemenjadian dirinya. Saripati kehidupan yang menjadikan segala proses kejadian mengenai dirinya adalah proses pembelajaran terpenting untuk melanjutkan perjalanan ke fase berikutnya.

Fase Kedua; mengatur proses pembuahan

Fase berikutnya adalah menyatunya segala latar belakang potensi berbeda ke dalam satu rahim yang sama. Bersatunya segala cikal bakal eksistensi ke dalam sebuah naungan kasih sayang rahimiyah yang sama, dijalin dengan silaturrahim dan ucapan salam kesejahteraan dan keselamatan. Dari jalinan silaturahim ini kemudian memunculkan sebuah komitmen diri yang sarat integritas tinggi akan kemanusiaan. Sebuah komitmen yang akan mengantarkan benih-benih kesadaran kepada satu-satunya buah terbaik, yakni dedikasi tertinggi hanya bagi Sang Pencipta. Sebuah komitmen transendental yang merupakan cikal bakal sejarah manusia dan janin dari peradaban kemanusiaannya.

Janin-janin peradaban manusia berisikan pribadi-pribadi yang berkomitmen terhadap kemanusiaan dan gandrung akan kesadaran pembebasan dan kemerdekaan. Komitmen yang tangguh karena berdiri bersama para penjungjung tinggi komitmen yang tidak mengandung sedikit pun maksud khianat dan muslihat dalam komitmennya. Komitmen yang rendah hati karena kesombongannya sirna dengan menganugerahkan dedikasi kemanusiaan tertinggi hanya bagi Sang Pencipta Kemanusiaan manusia. Janin peradaban yang telah siap dengan segala potensinya untuk tetap menyusuri jalan-jalan perubahan diri dan masyarakatnya menuju kemerdekaan sejati; liberasi transendental. Dan yang terpenting dari semuanya adalah bahwa janin peradaban ini telah siap untuk tetap bertahan melangkahkan diri ke dalam fase kejadian selanjutnya.

Fase Ketiga; melalui proses kejadian bertahap

Fase berikutnya adalah beberapa tahap pembentukan yang terjadi dalam rahim, dari mula segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian menjadi tulang belulang, dan tulang itu kemudian dibungkus dengan daging, hingga akhirnya menjadi sesosok makhluk yang sama sekali baru. Fase ketiga ini merupakan fase dimana kesadaran transendental terbentuk. Dari mula wacana teoritis yang terkesan tanpa arah dan tujuan, kemudian tahap wacana teoritis ini mencoba berdiri kokoh dalam alur-alur aktualisasi teoritis menjadi praxis. Dan kemudian wacana praxis ini menjadi kerangka dasar yang menopang sistematika kesadaran kemanusian manusia. Pemahaman yang sistematis tentang kemanusiaan sejati akan mengantarkan perjalanan kesadaran seorang manusia pada satu tahap dimana komitmen praxis dan integritas dirinya benar-benar diuji oleh realitas masyarakatnya yang memiliki proses-proses sejarah dan perubahan-perubahan format peradaban. Dalam tahap inilah segala hal mengenai diri manusia dan eksistensi dirinya dipaksa untuk dapat berpacu dengan realitas yang bergerak. Jantungnya harus mulai berdetak, aliran darahnya harus mulai mengalir, dan pada saatnya nanti nafasnya harus seirama dengan deru nafas perkembangan peradaban masyarakatnya.

Untuk menjadi pribadi yang benar-benar baru haruslah memiliki modal kesiapan terhadap segala sesuatu yang baru pula. Tanpa kesiapan menghadapi situasi yang baru dalam setiap tahapan pembentukannya seorang manusia tidak akan mampu bertahan dalam kandungan rahim peradaban. Tidak bertahan berarti diam tidak bergerak. Jantungnya diam tidak berdetak, aliran darahnya sama sekali gagal mengalir, dan nafasnya tidak berhembus. Walaupun sang rahim tetap mengalirkan suplemen-suplemen kehidupan, janin tadi tidak meresponnya dengan baik. Akibatnya sang janin gagal terlahirkan ke dunia. Eksistensi sang janin yang gagal akan menjadi bagian dari sesuatu yang tersia-sia dan disia-siakan peradaban. Walaupun demikian tetap lah bahwa semua proses menjadi sebuah rencana tak terduga dari Sang Pencipta yang pasti akan mengganti sesuatu yang sia-sia dengan yang lebih berharga bahkan jauh lebih baik. Modal kesiapan terhadap yang serba tak terduga merupakan sebuah keyakinan tak terbantahkan tentang adanya sebuah perencanaan maha sempurna dari Sang Pencipta. Dan setelah melalui semua tahap dalam fase pembentukan ini, maka manusia telah siap menyosong eksistensi barunya dalam fase berikutnya.

Fase Keempat; proses kelahiran generasi

Fase berikutnya adalah fase kelahiran generasi. Setiap jabang bayi yang baru terlahir selalu menangis dengan keras agar mampu menyesuaikan irama nafasnya dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini merupakan pernyataan kebebasannya dari setiap bentuk belenggu yang mengekang eksistensi dirinya selama ini. Kemerdekaan sejati yang murni merupakan sensasi kebahagiaan yang sebenarnya. Sensasi eksistensi yang benar-benar telah sampai ke tahap liberasi transendental. Bagi eksistensinya yang baru, tidak ada secuil pun kenyataan dalam dunianya yang sia-sia. Semua kenyataan barunya merupakan bahan-bahan yang eksploratif dan serba menarik. Generasi baru ini tidak akan mau berhenti bergerak. Jantungnya terus berdetak kencang seiring aliran darahnya yang deras mengalir dalam tubuhnya. Nafasnya seirama dengan deru nafas peradaban sehingga sama sekali tidak terasakan banyaknya oksigen yang dihisap dan dipompakan oleh jantung melalui aliran darah ke sekujur tubuhnya. Generasi-generasi baru yang mewarisi prinsip kemanusiaan sejatinya tidak akan pernah merasakan kelelahan dan kebosanan dalam bergerak dan terus tumbuh membentuk peradaban. Dalam nadinya mengalir darah perubahan dan semangat kemerdekaan yang membara. Apa pun tentangan dan hambatan adalah batu uji yang mempertajam pisau analisanya tentang dinamika masyarakat yang bergerak dan terus bergerak. Eksistensinya mengalir seiring dengan aliran perubahan dalam sejarah peradaban manusia. Eksistensinya telah siap menyongsong fase selanjutnya.

Fase Kelima; proses tumbuh dan berkembangnya generasi

Fase berikutnya adalah fase dimana sang jabang bayi bergerak tumbuh menuju kedewasaan. Tidak ada manusia dalam peradaban yang tumbuh sendirian tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya. Proses tumbuhnya sang bayi peradaban menuju eksistensinya yang utama berproses seiring dengan perkembangan masyarakat di lingkup sosial dimana dia berada. Dalam seting sejarah dimana dia dilahirkan, sang bayi perubahan tumbuh menjadi anak dewasa yang berwawasan luas. Bersama dengan masyarakatnya, sang bayi perubahan bangkit menuju kesadaran dewasa yang mandiri dan melepaskan diri beserta masyarakatnya dari belenggu-belenggu penjajahan dan hegemoni bangsa lain. Berkembangnya sebuah generasi merupakan proses sosial yang melibatkan komunitas tercerahkan yang terus berkembang membesarkan dirinya. Hingga akhirnya membentuk peradaban.

Bagi manusia pada fase ini tugas hidupnya telah jelas tergambarkan dan termanifestasikan dengan rinci. Satu-satunya arah tugas hidupnya adalah bergerak tumbuh dan mengembangkan diri beserta seluruh potensi eksistensi dirinya. Tidak ada arah lain, dan tidak ada orientasi yang lain selain dedikasi tertinggi bagi Sang Pencipta. Tujuannya hanya satu, yakni prestasi setinggi-tingginya di akherat. Dunia baginya hanyalah fasilitas penunjang terpenting untuk akheratnya. Capaian kemenangan peradaban manusia di dunia adalah cita-citanya tertinggi. Dengan kesadaran kemanusiaan yang utuh sebagai mujahid-mujahid peradaban, tidak ada satu pun aral yang melintang dan hambatan yang dihadapinya selain dengan keyakinan bahwa Sang Pencipta telah menyediakan segalanya untuk mengembangkan diri dan masyarakatnya. Takdir sejarah telah menjadi bagian dari dirinya. Realitas adalah rute tempuh yang menegaskan takdir kemanusiaannya. Dan manusia pengembang generasi telah siap untuk menyongsong akheratnya.

Fase Keenam; proses berakhirnya program kehidupan yakni kematian

Fase keenam adalah fase dimana segala realitas di dunia akan tiba pada akhir perjalanan proses. Sebuah fase dimana segala program kehidupan yang dirancang dan dikendalikan Sang Pencipta telah mencapai ujung perjalanannya yang terakhir. Sebuah fase yang menjadi akhir dari tugas manusia dihadirkan eksistensinya di dunia. Sebuah fase yang bagi mujahid-mujahid peradaban merupakan saatnya beristirahat. Saatnya mengukur sejauhmana perjalanan perjuangan kemanusiaannya telah berhasil dilalui. Dan merupakan tempat dimana segala sesuatunya kemudian diperhitungkan serta mendapatkan balasan terhadap apa yang telah diperbuat manusia dengan eksistensinya di dunia.

Bagi manusia yang tidak melakukan perjalanan menuju liberasi transendental, fase terakhir ini merupakan bencana karena sudah tertutupnya kesempatan yang sangat berharga untuk menentukan nilai dan harga dirinya dihadapan Sang Pencipta. bagi mereka yang menolak terlibat secara emansipatif dalam proses liberalisasi transendentif ini, maka selamanya dirinya tidak akan menemukan makna dan harga dari eksistensi dirinya di dunia. Bagi yang tidak memerdekakan dirinya sendiri dari belenggu eksistensialisme semu dan hegemoni semu yang melingkupi dirinya selama ini, maka fase ini menegaskan keterjajahan abadinya.

“Kami Telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila kami menghendaki, kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) Ini adalah suatu peringatan, Maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya”.76:28-29

oleh : Iskandar Gunawidjaya S.Sos
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar